Time

0
234
views

Membuka kembali blog ini rasanya seperti membuka lembaran masa lalu. Bukan sekedar ‘rasanya’ sih, tapi memang nyatanya kembali berhadapan dengan draft posting ini sama saja dengan memancing semua kenangan yang pernah gue lalui, melalui halaman-halaman sederhana yang bersifat maya ini.

Ada beberapa fase penting yang gue lalui, yang tanpa disadari, telah gue lalui bersama blog ini. Beberapa pelajaran penting yang gue terima, telah gue share dengan blog ini untuk waktu yang tidak sebentar. Melalui tahun-tahun yang konyol itu, gue belajar banyak hal penting, seperti misalnya untuk tidak terlalu mudah percaya kepada seseorang, untuk tidak bergantung kepada hidup orang lain, untuk tidak mengambil keputusan-keputusan bodoh, yang beberapa tahun lalu gue ambil dan menyisakan sesal bahkan hingga sekarang.

Membuka kembali lembaran masa lalu, buat gue, selalu menyisakan perasaan yang campur aduk. Gue bukan tipe orang yang akan tenggelam dalam penyesalan. Gue tipe orang yang tau betul bahwa perasaan itu tidak ada yang abadi. Bahwa segala sesuatu memang akan berlalu. Bahwa hidup, tidak peduli seberapa berantakannya untuk seseorang, akan tetap berlanjut. Dan tidak ada seorang pun yang akan bersedia menunggu untuk selamanya. Karena kita semua punya limit, batas, di dunia ini.

Rasanya semua orang terburu-buru, bahkan gue. Semua orang berlari, semua orang saling mendahului. Semua orang ingin mencapai garis finish secepat mungkin hingga mereka melupakan inti dari perjalanan ini sendiri. Gue gak mau jadi orang yang seperti itu.

1 tahun berlalu semenjak post terakhir gue di blog ini. Ada banyak hal yang berubah. Yang paling gue rasain sebetulnya adalah how I manage my feeling to the people surround me. Fact is, it actually scares me how I stay as far as possible from any risky feelings. I build walls instead of bridges.

Beberapa bulan lagi hidup akan menjadi sangat berbeda buat gue. Beberapa bulan lagi gue udah gak bakal memakai seragam kebanggaan remaja di Indonesia, putih abu-abu. Beberapa bulan lagi gue gak bakal bertemu teman-teman SMA gue lagi setiap hari, makan bekal di kelas, atau ramai-ramai hinggap di rumah gue dan bikin kamar gue kaya kapal pecah. Beberapa bulan lagi, gue tau gue bakal kangen sama masa-masa ini. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk menyayangi orang-orang idiot ini.

Kata Einstein, waktu itu relatif. Waktu, untuk gue, tidak perlu menjadi serumit itu. Relatif atau tidak, waktu selalu maju ke depan. Suka atau tidak, masa lalu tidak dapat diulang kembali, masa depan tidak dapat dilangkahi. So right now what I’m exactly doing is to make the best of this. This is present, a gift which I shall not throw away.

Di satu sisi, gue excited banget untuk menghadapi dunia perkuliahan. Suasana baru. Teman-teman baru. Cara-cara baru. Kebebasan baru. Kesempatan baru. Dunia yang lebih luas. Awal yang baru lagi. Namun di sisi yang lain, gue bertanya dan terus bertanya, siapkah gue berpisah dengan makhluk-makhluk idiot ini? Sama HCI? Sama Involve? Sama Vensarges? Sama Scovelixthree? Sama Gabil? Sama Music Frequency? Sama Affection? Sama Strovolt? Sama SMA Negeri 21? Siapkah gue untuk keluar dari zona nyaman gue dan menghadapi segala sesuatunya secara lebih dewasa?

Previous articleBahasa Angin
Next articleMaya
SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here